Berita

Pelestarian Budaya Konawe, Mosehe Wonua Siap Digelar dengan Doa dan Persatuan

111

Info-Sultra.com | Konawe – Dalam rangka memastikan kelancaran pelaksanaan kegiatan budaya tahunan Mosehe Wonua, Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim, SE., M.Si., meninjau langsung gedung yang berbentuk Rumah Adat (Laika Mbu) dan mengunjungi makam raja, Rabu (15/5/2025).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian persiapan menyambut Pawai Budaya dan pelaksanaan ritual Mosehe Wonua atau yang lebih dikenal dengan istilah pemutihan wilayah. Tradisi ini merupakan bagian penting dari warisan budaya masyarakat Konawe yang setiap tahunnya diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan upaya menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Dalam keterangannya kepada awak media, Wakil Bupati Syamsul Ibrahim menegaskan pentingnya pelestarian budaya lokal sebagai salah satu identitas masyarakat Konawe.

“Mosehe Wonua bukan sekadar kegiatan seremonial, ini adalah simbol persatuan, kebersihan batin dan lingkungan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai luhur nenek moyang kita. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk terus menjaga dan mempromosikan kekayaan budaya ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia juga menginformasikan bahwa akan digelar kegiatan pengajian bersama pada malam harinya sebagai bentuk penyucian batin menyambut puncak acara.

“Insya Allah, sebentar malam setelah Salat Magrib, kita akan adakan pengajian bersama. Kami mengajak seluruh masyarakat Konawe untuk hadir dan ikut serta, agar kegiatan ini semakin membawa berkah dan memperkuat kebersamaan kita,” tambahnya.

Gedung yang menyerupai Rumah Adat (Laika Mbu) yang menjadi titik pusat kegiatan disiapkan sebagai tempat berlangsungnya berbagai prosesi adat, termasuk penyambutan tamu kehormatan, pemuka adat, serta tokoh masyarakat. Pihak panitia juga telah memastikan kesiapan teknis, mulai dari jalur pawai, hingga kesiapan peserta budaya dari seluruh kecamatan di Kabupaten Konawe.

Puncak acara Mosehe Wonua dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 16 Mei 2025. Acara tersebut rencananya akan dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Bupati dan Wakil Bupati Konawe Selatan, serta sejumlah tokoh adat dan pejabat pemerintahan lainnya.

Kegiatan ini tak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga diharapkan mampu menarik kunjungan wisatawan serta memperkuat sektor pariwisata lokal yang berbasis tradisi dan kearifan lokal.

Sementara di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal Lembaga Adat Tolaki (Sekjen DPP LAT), Bisman Saranani, saat diwawancarai mengatakan bahwa Musyawarah Adat Kelima kali ini dihadiri secara penuh oleh DPP LAT Sultra dengan dukungan penuh dari Pemerintah Daerah.

“Musyawarah kali ini kita turun full, dan didukung serta dibantu penuh oleh pemerintah daerah, baik Bupati maupun Wakil Bupati Konawe,” ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan hari ini mencakup kunjungan ke makam raja dan permaisurinya, tak lupa juga berkunjung ke sulemandara, yang kemudian dilanjutkan dengan acara ritual khusus. Dahulu, ritual seperti ini hanya dilakukan lima tahun sekali, namun kini menjadi kegiatan tahunan menyesuaikan perkembangan zaman dan teknologi.

“Untuk kegiatan MUSDAT ini, teknisnya sudah siap. Intinya adalah laporan pertanggungjawaban pengurus 2025 dan pemilihan Ketua Umum. Alhamdulillah, sampai saat ini sudah banyak calon Ketua LAT yang mendaftar, dan insya Allah akan dibuka langsung oleh Gubernur Sultra setelah Pawai Budaya, kemudian dilanjutkan dengan Musdat,” jelasnya.

Sebagai penutup, ia mengimbau kepada seluruh jajaran pengurus Lembaga Adat Tolaki, mulai dari desa, kecamatan, hingga kabupaten/kota dan pusat, untuk bersama-sama menyukseskan Musyawarah Adat Tolaki Kelima di Unaaha.

“Dengan dukungan semua pihak, kita harapkan Mosehe Wonua tahun ini berjalan lancar dan membawa manfaat besar bagi masyarakat, baik secara spiritual, sosial, maupun ekonomi,” tambah Wakil Bupati Syamsul Ibrahim.

Masyarakat Konawe sendiri terlihat antusias menyambut acara ini. Persiapan telah dilakukan sejak beberapa pekan sebelumnya, melibatkan unsur pemerintah desa, pemuda adat, serta berbagai komunitas budaya.

Laporan: Nasir Alex