Berita

Pemandian Air Panas Sonai, Anugerah Alam Yang Terlantar di Kabupaten Konawe

129

Info-Sultra.com | Konawe – Dari total 15 kabupaten dan 2 kota di Sulawesi Tenggara, hanya Kabupaten Konawe yang memiliki pemandian air panas alami. Sumber daya alam yang terletak di Desa Sonai ini sesungguhnya merupakan anugerah Tuhan yang tidak dimiliki daerah lain di provinsi ini. Sayangnya, keistimewaan tersebut kini seolah luput dari perhatian dan dibiarkan terbengkalai.

Pemandian air panas Sonai dulunya menjadi daya tarik masyarakat sekitar maupun pengunjung dari luar daerah. Selain dipercaya memiliki manfaat bagi kesehatan, suasana alam pedesaan yang asri menambah nilai lebih bagi siapa saja yang berendam di kolam alaminya. Keunikan itu membuat Sonai berbeda dari wisata lain di Sulawesi Tenggara yang mayoritas berupa pantai dan laut.

Namun, keindahan sekaligus keberkahan itu kini seperti terabaikan. Kolam pemandian tampak tak terawat, fasilitas yang ada rusak, bahkan lingkungan sekitar yang mestinya dijaga kebersihannya pun kurang perhatian. Bukannya menjadi ikon wisata kesehatan dan rekreasi, Sonai justru menghadirkan pemandangan miris: sebuah anugerah alam yang tidak terurus.

Banyak pihak menyayangkan kondisi tersebut. Salah seorang warga menuturkan, “Air panas ini kan pemberian Tuhan. Tidak semua daerah punya. Tapi kita justru membiarkannya terbengkalai. Kalau ada perbaikan dan promosi, pasti banyak orang datang.”

Kekecewaan masyarakat ini bukan tanpa alasan. Sebab, di tengah gencarnya promosi wisata daerah lain di Sulawesi Tenggara, Konawe sesungguhnya punya keunggulan yang tidak dimiliki siapa pun: pemandian air panas alami satu-satunya di provinsi ini. Ironisnya, justru keunikan itu yang terabaikan.

Minimnya perhatian pemerintah, ketiadaan promosi, dan tidak adanya perawatan membuat pemandian air panas Sonai kehilangan pesonanya. Padahal, jika dikelola dengan serius, destinasi ini bisa mendatangkan pendapatan asli daerah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Lebih jauh, kondisi Sonai juga menyimpan pesan moral: betapa sering manusia lalai merawat ciptaan Tuhan yang berharga. Air panas alami yang bisa menjadi berkah justru dibiarkan seolah tak bernilai. Padahal, di banyak tempat lain, sumber daya semacam ini dipelihara, dijadikan destinasi wisata unggulan, bahkan menjadi kebanggaan daerah.

Masyarakat menilai, sudah saatnya pemerintah daerah menaruh perhatian lebih serius pada pemandian air panas Sonai. Beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan antara lain:

1. Revitalisasi Infrastruktur – Perbaikan kolam, pembangunan fasilitas pendukung seperti ruang bilas, gazebo, hingga area parkir layak, agar pengunjung merasa nyaman.

2. Pengelolaan Profesional – Membentuk badan pengelola khusus atau bekerja sama dengan BUMDes maupun pihak swasta untuk memastikan operasional berjalan berkelanjutan.

3. Promosi dan Branding – Mengangkat Sonai sebagai “ikon wisata kesehatan Konawe” melalui media digital, event pariwisata, hingga kerja sama dengan agen perjalanan.

4. Kemitraan Investasi – Membuka peluang investasi dengan melibatkan sektor swasta. Model kerjasama publik-swasta (Public Private Partnership/PPP) bisa menjadi solusi agar beban pembiayaan tidak hanya ditanggung pemerintah.

5. Pemberdayaan Masyarakat Lokal – Melibatkan warga sekitar dalam kegiatan ekonomi penunjang, seperti homestay, kuliner tradisional, hingga jasa pemandu wisata, sehingga manfaat langsung dirasakan masyarakat.

Jika langkah-langkah tersebut diwujudkan, pemandian air panas Sonai bukan hanya bisa hidup kembali, melainkan menjadi destinasi unggulan yang mampu bersaing dengan objek wisata lain di Sulawesi Tenggara.

“Kalau dikelola dengan baik, Sonai bisa menjadi aset pariwisata yang luar biasa. Jangan sampai kita terus dikenal sebagai daerah yang menyia-nyiakan karunia Tuhan,” tutur salah satu tokoh pemuda setempat.

Kini, masyarakat Konawe menunggu keseriusan pemerintah. Apakah pemandian air panas Sonai akan tetap menjadi cerita tentang anugerah yang disia-siakan, atau bangkit menjadi kebanggaan Konawe dan Sulawesi Tenggara.

Laporan: Redaksi