INFO-SULTRA.COM, ROUTA,KONAWE – Di tanah lapang yang sarat sejarah itu, Ritual Mosehe Wonua kembali digelar—bukan sekadar upacara adat, melainkan jeritan doa dan harapan yang dipanjatkan dari kedalaman batin masyarakat.
Sejak pagi hari, masyarakat Kecamatan Routa berkumpul tanpa sekat. Tua dan muda, tokoh adat, pemerintah desa, hingga warga biasa menyatu dalam satu ruang sakral. Keheningan perlahan menyelimuti area ritual, hanya lantunan doa dan rangkaian adat yang berbicara.
Mosehe Wonua dilaksanakan sebagai ikhtiar spiritual untuk menyucikan negeri dari energi negatif, wabah, serta berbagai ancaman bencana.
Prosesi yang dipimpin para tetua adat suku Tolaki itu sarat makna. Setiap tahapan ritual mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Esa.
Mosehe Wonua bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga pedoman hidup yang menanamkan nilai ketertiban, keseimbangan, dan penghormatan terhadap alam. Di sanalah masyarakat menitipkan harapan agar wilayah Routa senantiasa sejuk, aman, tertib, dan diberkahi di tengah arus perubahan zaman.
“Ini bukan tontonan, ini panggilan jiwa,” ungkap seorang tokoh adat dengan suara bergetar. Bagi mereka, Mosehe Wonua adalah pengingat bahwa pembangunan yang mengabaikan ruh budaya hanya akan melahirkan kekosongan makna dan kegersangan nilai.
Di tengah geliat pembangunan daerah, ritual ini berdiri tegak sebagai benteng identitas dan ruang pemersatu. Mosehe Wonua menjadi titik temu seluruh elemen masyarakat, tempat perbedaan dilebur dalam satu keyakinan bahwa persatuan, doa, dan penghormatan terhadap adat merupakan kekuatan utama masyarakat Routa.
Mosehe Wonua hari itu bukan sekadar peristiwa budaya. Ia adalah napas kolektif masyarakat Routa doa yang dipanjatkan bersama, harapan yang dititipkan kepada langit, serta pesan sunyi kepada generasi mendatang agar tidak pernah melupakan akar jati diri dan kearifan leluhur mereka.
Laporan: Nasir Alex
