Berita

Mosehe Wonua: Adat, Pembangunan, dan Benteng Identitas Masyarakat Routa

4

INFO-SULTRA.COM, ROUTA, Konawe – Makna Mosehe Wonua tidak berhenti pada prosesi adat semata. Ritual ini juga menjadi pengingat moral bagi seluruh pihak yang hidup dan beraktivitas di wilayah Routa, bahwa pembangunan harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap adat dan nilai-nilai lokal. Sabtu 8 Februari 2026

Wakil Bupati Konawe, H. Syamsul Ibrahim, SE, M.Si, dalam sambutannya menegaskan bahwa Mosehe Wonua merupakan warisan luhur budaya Tolaki yang mengandung nilai spiritual mendalam serta filosofi kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Ia menjelaskan, Mosehe Wonua adalah doa bersama yang sakral sebagai bentuk ikhtiar batin masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan negeri, menolak bala, serta membersihkan wilayah dari segala energi negatif, wabah, dan potensi bencana.

Melalui pelaksanaan ritual adat ini, masyarakat memohon agar seluruh proses kehidupan—baik dalam pemerintahan, pembangunan, maupun tatanan sosial kemasyarakatan—dapat berjalan dengan sejuk, tertib, aman, dan penuh keharmonisan.

Wakil Bupati berharap, pelestarian Mosehe Wonua tidak hanya menjaga identitas budaya Tolaki, tetapi juga menjadi penguat persatuan, keteduhan sosial, serta sumber keberkahan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat Konawe.

Sementara itu, Didik Fotunadi, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT SCM, yang hadir memenuhi undangan, menegaskan bahwa Mosehe Wonua memiliki makna spiritual yang sangat mendalam, tidak hanya bagi masyarakat adat, tetapi juga bagi seluruh pihak yang beraktivitas di wilayah tersebut.

“Bagi kami, Mosehe Wonua bukan sekadar ritual, melainkan doa bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujarnya. Ia menyebut ritual ini sebagai upacara adat sakral Suku Tolaki untuk menyucikan negeri, menolak bala, serta memohon agar setiap proses kehidupan baik sosial maupun ekonomi dapat berjalan dengan sejuk, tertib, dan diberkahi.

Menurutnya, ritual adat berperan penting dalam menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual. Tanpa keseimbangan itu, pembangunan berpotensi kehilangan arah dan menimbulkan gesekan sosial.

“Kami percaya, ketika adat dihormati dan nilai-nilainya dijaga, keharmonisan akan tercipta. Karena itu, kami mendukung dan menghormati pelaksanaan ritual ini sebagai bagian dari kearifan lokal yang harus terus dirawat,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Desa Lalomerui, Taksir Unggasi, menegaskan bahwa pelaksanaan Mosehe Wonua merupakan langkah nyata dalam melestarikan budaya Tolaki yang selama ini mulai tergerus zaman.

“Di Kecamatan Routa, khususnya di Desa Lalomerui, masih banyak keluarga besar Suku Tolaki yang belum sepenuhnya mengenal dan memahami budayanya sendiri. Hal ini karena hampir tidak pernah ada kegiatan kebudayaan seperti ini,” ungkapnya.

Ia menilai, selama ini pengembangan budaya belum berjalan optimal akibat belum adanya wadah dan kegiatan budaya yang hidup, terstruktur, dan berkelanjutan.

“Oleh karena itu, kami bersama pemerintah daerah, lembaga adat, serta tokoh adat Tolaki berkomitmen untuk terus melestarikan budaya melalui berbagai kegiatan kebudayaan,” tegasnya.

Menurutnya, pelestarian budaya sangat penting agar generasi muda mengenal jati diri, memahami nilai-nilai luhur warisan leluhur, serta mengetahui tata cara pelaksanaan adat dan etika budaya Tolaki.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa budaya bukan sekadar seremoni, melainkan pedoman hidup yang menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

“Dengan berakar pada budaya, kita berharap dapat menciptakan perdamaian, ketenteraman batin, serta membangun Kecamatan Routa menjadi wilayah yang harmonis dan berkarakter,” pungkasnya.

Di tengah kemajuan teknologi dan pertemuan berbagai budaya, masyarakat Routa menyadari bahwa identitas budaya adalah benteng utama yang tidak boleh runtuh. Nilai-nilai adat Tolaki tidak boleh dilanggar, baik oleh masyarakat setempat maupun pihak luar yang datang, termasuk investor dan pendatang yang mencoba mencampuri urusan budaya tanpa memahami makna dan tatanannya.

Mosehe Wonua pada akhirnya bukan sekadar peristiwa budaya, melainkan napas kolektif masyarakat Routa doa yang diucapkan bersama, harapan yang dititipkan ke langit, dan pesan sunyi bagi generasi mendatang agar tak pernah melupakan akar jati diri mereka.

 

Laporan: Nasir Alex