INFO-SULTRA.COM, KONAWE – Sejumlah sekolah di Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, menyampaikan keluhan serius terhadap pelayanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kecamatan Wonggeduku dalam beberapa hari terakhir. Keluhan tersebut berkaitan dengan kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa melalui program pemenuhan gizi di sekolah.
Pihak sekolah menyebutkan bahwa salah satu menu yang diterima siswa diduga dalam kondisi tidak layak konsumsi. Menu ayam suwir yang telah dipaketkan dan siap dibagikan kepada siswa dilaporkan berbau tidak sedap dan dicurigai sudah basi.
“Ayam suwirnya sudah dipaketkan, siap dikembalikan ke dapur umum SPPG Kecamatan Wonggeduku. Sebagian masih ada di dalam omprengan,” ujar salah satu tenaga pendidik yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Selain dugaan makanan basi, pihak sekolah juga menemukan adanya benda asing berupa sisa kerak atau gosokan panci yang ikut tercampur dalam makanan yang dibagikan kepada siswa. Temuan tersebut sontak menimbulkan kekhawatiran terkait kebersihan dan standar pengolahan makanan di dapur SPPG.
“Assalamualaikum, mohon maaf, hari ini siswa kami mendapatkan sisa pengosok panci dalam makanan,” demikian bunyi pesan pengaduan resmi yang disampaikan pihak sekolah.
Kekhawatiran Guru dan Orang Tua
Kejadian ini menimbulkan keresahan di kalangan guru dan orang tua siswa. Mereka khawatir kualitas makanan yang tidak terjaga dapat berdampak pada kesehatan siswa, terutama mengingat program ini bertujuan untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah.
Beberapa sekolah memilih untuk tidak langsung membagikan makanan yang diragukan kualitasnya dan berinisiatif mengembalikan paket tersebut ke dapur umum SPPG sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan siswa.
Guru-guru berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan makanan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah-sekolah.
Perlu Evaluasi dan Pengawasan Ketat
Program pemenuhan gizi melalui SPPG sejatinya merupakan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan konsentrasi belajar siswa. Namun, pelaksanaan di lapangan harus tetap mengedepankan standar kebersihan, keamanan pangan, dan ketepatan distribusi.
Sejumlah pihak menilai perlunya pengawasan lebih ketat dari instansi terkait, termasuk dinas pendidikan dan dinas kesehatan, guna memastikan dapur SPPG memenuhi standar higienitas dan kapasitas produksi yang memadai.
Selain persoalan kualitas makanan, beberapa sekolah juga mengharapkan adanya komunikasi yang lebih responsif dari pengelola SPPG ketika muncul keluhan di lapangan.
Harapan Sekolah
Sekolah-sekolah di Kecamatan Wonggeduku berharap kejadian ini menjadi perhatian serius bagi pengelola program agar tidak terulang kembali di kemudian hari. Mereka menekankan bahwa keselamatan dan kesehatan siswa harus menjadi prioritas utama.
Pihak sekolah juga meminta adanya transparansi dalam proses evaluasi serta perbaikan sistem distribusi, sehingga kepercayaan terhadap program pemenuhan gizi dapat kembali terjaga.
Hingga berita ini diterbitkan, sekolah-sekolah menantikan klarifikasi resmi serta langkah konkret dari pihak SPPG Kecamatan Wonggeduku terkait permasalahan tersebut.
Laporan : Redaksi
