INFO-SULTRA.COM, KONAWE, 14 Februari 2026 – Suasana di depan Kantor Bupati dan DPRD Konawe, Jumat siang, mendadak lebih panas dari biasanya. Bukan karena terik matahari, melainkan karena Himpunan Aktivis Muda (HAM) Cabang Konawe turun ke jalan. Mereka memprotes dugaan pelanggaran SOP dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan disebut-sebut “lebih banyak gizinya di nama daripada di rasa”.
Dengan pengeras suara dan spanduk terbentang, massa mendesak Bupati Konawe segera mencopot Kepala MBG Cabang Konawe. Alasannya serius, dugaan lemahnya pengawasan terhadap sejumlah dapur SPPG yang menyalurkan makanan ke sekolah-sekolah.
Ketua HAM Konawe, Muh. Jullah S. Roe, dalam orasinya mengatakan mereka menerima laporan makanan diduga berbau basi, bahkan ada yang disebut-sebut “bergerak sendiri”.
“Kalau makanan sudah beraroma tajam dan diduga berulat, itu bukan lagi makan bergizi gratis, itu uji nyali gratis,” ujarnya disambut sorakan massa.
Menurutnya, program yang ditujukan untuk anak sekolah, balita, dan ibu hamil itu seharusnya menjadi simbol kepedulian negara, bukan malah memicu kekhawatiran. “Kami tidak ingin anak-anak datang ke sekolah semangat belajar, tapi pulang dengan trauma membuka kotak makan,” katanya.
Penanggung jawab aksi, Dewi Sandra, menambahkan laporan dari sejumlah guru di Kecamatan Wonggeduku menyebut adanya makanan yang diduga sudah tidak layak konsumsi. Bahkan ditemukan benda asing yang diduga sisa gosokan panci.
“Kalau benar itu sisa gosokan panci, berarti yang bergizi bukan cuma makanannya, tapi juga peralatan dapurnya ikut tersaji,” ujarnya setengah menyindir.
Meski dibalut candaan, tuntutan mereka tetap tegas: investigasi menyeluruh, audit dapur SPPG, dan penutupan dapur yang tidak memenuhi standar. Mereka juga meminta DPRD segera menggelar rapat dengar pendapat agar persoalan ini tidak sekadar menjadi bahan obrolan warung kopi.
HAM Konawe menegaskan akan terus mengawal kasus ini. Jika tidak ada langkah konkret, mereka mengancam akan kembali turun ke jalan dengan jumlah massa lebih besar.
“Programnya boleh gratis, tapi tanggung jawabnya jangan ikut gratis,” ujar salah satu orator sebelum massa membubarkan diri dengan tertib.
Laporan: Redaksi
