Berita

Dari Pesantren untuk Peradaban: Pemuda Islam Harus Kuasai Bahasa, Ekonomi, dan Al-Qur’an

4

INFO-SULTRA.COM, KOLAKA TIMUR – Safari Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Kolaka Timur berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangkitan generasi muda. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, dilakukan penyerahan Al-Qur’an dari PB Alzis yang diwakili oleh Ustadz Marjuwan Ibrahim, Lc., M.A., Ketua Ikatan Guru dan Dosen Al Washliyah.

Momentum ini tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi simbol penguatan dakwah dan komitmen membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. Dalam sambutannya, Ustadz Marjuwan menyampaikan apresiasi atas suksesnya pelaksanaan Safari Ramadan di Kolaka Timur.

“Selamat dan sukses atas terlaksananya Safari Ramadan 1447 H di Kolaka Timur. Semoga setiap langkah dakwah menjadi ladang pahala, menguatkan ukhuwah, dan menghadirkan keberkahan bagi umat serta daerah. Teruslah menjadi cahaya kebaikan di bulan penuh rahmat ini,” ujarnya.

Mengusung tema “Masa depan dunia ditangan pemuda Islam Indonesia”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi tentang pentingnya menyiapkan generasi yang kuat secara ilmu, akhlak, dan ekonomi.

Ustadz Marjuwan yang merupakan alumni S1 jurusan Hadis di Mesir tahun 2009 dan S2 di Yordania tahun 2014 menegaskan bahwa generasi muda Islam harus memiliki kesiapan menghadapi tantangan zaman. Ia menyebutkan empat pilar penting yang harus dikuasai pemuda, yakni penguasaan bahasa asing, penguatan ekonomi, keahlian di bidang pertanian dan peternakan, serta kedekatan dengan Al-Qur’an.

Menurutnya, pemuda Islam harus mampu bersaing secara global. Penguasaan bahasa asing seperti bahasa Inggris maupun bahasa Arab akan membuka peluang dakwah dan komunikasi internasional. Namun, kecerdasan intelektual saja tidak cukup tanpa kemandirian ekonomi.

Ia mencontohkan potensi besar sektor pertanian Indonesia. Komoditas seperti melon, sukun, dan talas memiliki prospek ekspor yang menjanjikan dan diminati pasar Jepang. Hal ini menjadi peluang nyata bagi generasi muda untuk membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

“Kalau anak-anak kita pintar bahasa Inggris, ditambah pandai bertani atau memiliki keahlian produktif lainnya, itu luar biasa. Mereka bisa berdakwah secara global sekaligus mandiri secara ekonomi,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga meluruskan anggapan sebagian pihak yang menilai pendidikan pesantren atau Madrasah Aliyah tidak memiliki masa depan.

“Kalau ada yang beranggapan sekolah di pesantren atau Aliyah itu tidak punya masa depan, itu salah total. Justru dari pesantrenlah akan lahir para pemimpin masa depan. Mereka dibekali ilmu agama, akhlak, dan karakter yang kuat,” tegasnya.

Menurutnya, santri yang memiliki bacaan Al-Qur’an yang baik, memahami tafsir, serta menguasai ilmu-ilmu keislaman memiliki fondasi kepemimpinan yang kokoh. Bahkan, mereka dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi dan bersaing secara akademik maupun profesional.

Ia juga menyoroti pentingnya perhatian orang tua terhadap pembinaan anak-anak. Menurutnya, anak-anak di sekitar kita terkadang kurang mendapatkan perhatian yang cukup, padahal mereka adalah aset masa depan umat dan bangsa.

Safari Ramadan 1447 H di Kolaka Timur pun menjadi momentum membangun kesadaran kolektif bahwa kebangkitan Islam sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.

Dengan bekal ilmu agama yang kuat, penguasaan bahasa asing, serta kemandirian di bidang pertanian dan ekonomi, generasi muda diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan yang membawa keberkahan bagi umat, daerah, dan bangsa.

 

Laporan : ( Ns/Red )