INFO-SULTRA.COM, KONAWE – Fajar baru saja menyingsing ketika jamaah Masjid Fastabiqul Khoirot menuntaskan salat Subuh berjamaah. Suasana hening dan penuh kekhusyukan itu berlanjut dengan kultum yang disampaikan Ustadz Marjuwan Ibrahim, Lc., M.A., Ketua Ikatan Guru dan Dosen Al Washliyah. Dalam tausiyahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Surah Al-Kahfi bukan sekadar bacaan rutin, melainkan peta jalan membangun generasi tangguh di tengah tantangan zaman yang kian kompleks. Sabtu 28 Februari 2026
Ustadz Marjuwan membuka ceramahnya dengan menyinggung kondisi global yang penuh ketidakpastian: krisis moral, tekanan ekonomi, konflik, hingga arus teknologi yang begitu cepat mengubah pola hidup masyarakat. Menurutnya, umat Islam tidak cukup hanya mengeluh atau menyalahkan keadaan.
“Solusi jangka panjang bukan sekadar wacana. Jika kita ingin membantu umat dan memperbaiki masa depan, siapkan anak-anak kita. Jadikan mereka generasi Al-Qur’an yang menguasai sains, teknologi, dan bahasa asing, tetapi tetap kokoh iman dan akhlaknya,” tegasnya.
Ia menjelaskan, Surah Al-Kahfi memuat empat ujian besar yang pasti akan ditemui setiap manusia: ujian iman, harta, ilmu, dan kekuasaan. Keempatnya, kata dia, adalah siklus kehidupan yang akan menentukan arah masa depan seseorang dan sebuah peradaban.
Ujian pertama tergambar dalam kisah Ashabul Kahfi. Para pemuda itu hidup di bawah kekuasaan zalim yang memaksa mereka meninggalkan keyakinan. Namun mereka memilih mempertahankan iman meski harus meninggalkan kenyamanan dan menghadapi risiko besar.
“Termasuk dalam memilih pendidikan anak. Jangan hanya melihat ranking dan prestasi akademik. Pastikan fondasi iman dan akhlaknya kuat sejak SD,” pesannya.
Ujian kedua terdapat dalam kisah dua pemilik kebun. Salah satunya terlena oleh kekayaan hingga merasa tidak membutuhkan Allah. Dari sini, ia menegaskan bahwa harta bukan ukuran kemuliaan.
“Kaya bukan berarti Allah ridha, dan miskin bukan berarti Allah murka. Kaya diuji dengan syukur dan kepedulian, miskin diuji dengan sabar dan kehormatan diri,” jelasnya.
Ia mengingatkan agar anak-anak diajarkan memahami bahwa harta adalah amanah. Jangan sampai saat sukses mereka menjadi sombong dan lupa berbagi. Sebaliknya, saat mengalami keterbatasan, jangan sampai mereka rendah diri atau menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekayaan.
Ujian Ilmu: Tawadhu dalam Keunggulan
Ujian ketiga terlihat dalam kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir. Meski Nabi Musa adalah rasul besar dan pemimpin Bani Israil, ia tetap diperintahkan belajar dan bersabar. Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu tidak pernah selesai.
“Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hati seharusnya. Jangan merasa cukup karena gelar dan jabatan,” ujarnya.
Ia menambahkan, jika Allah mencintai seorang hamba, Allah tidak selalu memberinya harta, tetapi menganugerahkan ilmu dan hikmah.
Hikmah adalah kemampuan melihat makna di balik setiap peristiwa—mampu bersyukur dalam nikmat dan mengambil pelajaran dalam musibah.
Generasi masa depan, lanjutnya, harus unggul dalam kompetensi global, tetapi tetap memiliki adab dan karakter. Ilmu tanpa akhlak hanya melahirkan kesombongan dan krisis moral.
Ujian keempat tergambar dalam kisah Dzulqarnain. Ia adalah pemimpin besar yang beriman dan adil. Al-Qur’an tidak menggambarkan kemewahan istananya, melainkan kiprahnya membela yang tertindas dan membangun benteng perlindungan bagi masyarakat yang terancam.
“Pemimpin sejati tidak boleh selfish, tidak hanya memikirkan diri dan keluarganya. Kekuasaan adalah amanah untuk melayani, bukan memperkaya diri,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa setiap orang adalah pemimpin, minimal bagi dirinya dan keluarganya. Karena itu, nilai kepemimpinan harus ditanamkan sejak dini: empati, tanggung jawab, dan keberpihakan pada keadilan.
Membangun Peradaban dari Rumah
Di penghujung kultum, Ustadz Marjuwan menekankan bahwa membangun peradaban tidak selalu dimulai dari panggung kekuasaan, tetapi dari rumah dan ruang pendidikan. Orang tua memiliki peran strategis menanamkan empat fondasi tersebut agar anak-anak mampu menghadapi ujian kehidupan.
Jika generasi tidak dipersiapkan dengan baik, mereka bisa terseret arus zaman krisis moral, penyalahgunaan narkoba, hingga kehilangan arah hidup. Namun jika dibekali iman yang kokoh, ilmu yang beradab, hikmah yang matang, serta jiwa kepemimpinan yang amanah, mereka akan menjadi cahaya harapan di tengah krisis nilai global.
“Perubahan besar sering dimulai dari rumah, dari keseriusan orang tua mendidik anak. Dari situlah lahir generasi yang bukan hanya sukses di dunia, tetapi juga selamat di akhirat,” pungkasnya.
Kultum Subuh tersebut meninggalkan pesan mendalam bagi jamaah: Surah Al-Kahfi adalah pedoman strategis membentuk generasi Qur’ani yang lulus empat ujian kehidupan iman, harta, ilmu, dan kekuasaan demi masa depan umat yang lebih bermartabat dan berkeadaban.
Laporan : QL
