INFO-SULTRA.COM | KENDARI – Gelombang protes terkait buruknya layanan kelistrikan di Kabupaten Konawe Utara (Konut) kian meruncing. Dua aktivis pemuda, Alpian Anas dan Hendrik, mengeluarkan pernyataan keras yang menuntut normalisasi pasokan listrik di wilayah Bumi Oheo hari ini juga, Rabu (13/5).
Menyambung pernyataan tegas Alpian Anas yang mengancam akan membakar kantor PLN jika kondisi tidak berubah, Hendrik menyatakan kesiapannya untuk melakukan mobilisasi massa secara besar-besaran ke ibu kota provinsi.
“Jika listrik di Konawe Utara tidak segera normal, kami akan menduduki kantor PLN Cabang Kendari. Kami tidak main-main, massa dalam jumlah yang lebih besar akan kami gerakkan untuk menuntut hak masyarakat Konut,” tegas Hendrik dalam orasinya di lokasi yang sama.
Hendrik juga menegaskan komitmennya untuk terus bertahan di Kendari hingga tuntutan mereka dipenuhi. Ia menyatakan bahwa kepulangan mereka ke Konawe Utara tanpa hasil adalah sebuah kegagalan moral bagi perjuangan rakyat.
“Kami tidak akan pulang ke Konawe Utara jika aspirasi ini tidak diamini. Listrik di Konut harus normal hari ini. Saya malu, kami semua malu jika harus pulang tanpa membawa hasil nyata bagi masyarakat yang sudah lama menderita akibat pemadaman ini,” tambah Hendrik dengan nada emosional.
Senada dengan itu, Alpian Anas sebelumnya telah menegaskan bahwa dirinya siap menanggung segala risiko atas aksi protes yang mereka lancarkan. Ia menilai kesenjangan layanan listrik antara Konawe Utara dengan kabupaten lain di Sulawesi Tenggara sudah tidak bisa ditoleransi lagi.
“Jangan salahkan kami jika tindakan ekstrem diambil. Ini adalah bentuk kekecewaan yang sudah memuncak. PLN harus bertanggung jawab atas kerugian yang dialami warga Konut,” pungkas Alpian.
Aksi ini menjadi sinyal peringatan serius bagi manajemen PLN UP3 Kendari. Hingga saat ini, massa menuntut kepastian teknis agar pemadaman listrik di Konawe Utara segera dihentikan secara permanen.
Laporan : Redaksi
