Dengan suara mantap dan pandangan menyapu ruangan, Yusran menyampaikan Rancangan Awal RPJMD 2025–2029 — sebuah dokumen strategis yang akan menentukan wajah Konawe selama lima tahun ke depan. Namun bagi Yusran, ini bukan sekadar rencana pembangunan. Ini adalah janji moral untuk membalik arah pembangunan yang selama ini terlalu sering tertumpu di pusat kota.
“Desa adalah denyut nadi Konawe. Di situlah hidup dimulai, dan di situlah pembangunan sejatinya harus bertumbuh,” ujarnya, dengan intonasi yang menekankan kesungguhan.
Visi besar yang diusungnya pun tak kalah bermakna: “Membangun Desa, Menata Kota Menuju Konawe Bersahaja.” Sebuah frasa yang terdengar sederhana, namun menyimpan harapan besar — tentang kesetaraan, keberlanjutan, dan keberpihakan kepada yang kerap tak terdengar.
Namun sesungguhnya, lebih dari angka dan indikator, yang diusung Bupati Yusran adalah cara pandang baru. Bahwa membangun bukan hanya soal gedung tinggi atau jalan lebar, tapi tentang membenahi layanan kesehatan di puskesmas desa, memastikan anak-anak bisa bersekolah tanpa harus menyeberangi sungai, dan membuka akses pasar bagi petani dan nelayan lokal.
“Pembangunan adalah soal keadilan,” lanjutnya. “Dan keadilan hanya hadir jika yang kecil, yang jauh, dan yang diam, akhirnya didengar.”
Laporan: Nasir Alex
