Syamsul menegaskan bahwa penguatan koperasi tak sekadar membutuhkan mental bisnis, tetapi juga kecakapan intelektual dalam mengelola dana publik. Ia menilai, Koperasi Merah Putih akan menjadi lembaga strategis yang mengelola uang negara sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Dalam kesempatan itu, pemerintah daerah juga mengumumkan rencana dukungan logistik. Mulai tahun depan, koperasi yang menunjukkan performa baik akan mendapat satu unit truk operasional untuk memperlancar distribusi barang dan transaksi anggota.
Syamsul menyebut kebijakan itu merupakan bentuk nyata keseriusan Pemkab dalam mempercepat modernisasi sistem koperasi.
Pemerintah juga menyiapkan dana stimulan Rp 19 juta untuk pembentukan Koperasi Merah Putih di tingkat desa. Dana itu dialokasikan khusus untuk biaya pendirian, rapat, pembuatan akta notaris, serta administrasi legal lainnya.
Pemkab Konawe menekankan pentingnya transformasi digital pada koperasi. Sistem monitoring Koperasi Merah Putih akan terhubung langsung dengan pusat, sementara gerai-gerainya dibangun dengan standar layanan modern. Seluruh pengelolaan juga akan diaudit secara khusus untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.
Pelatihan bertema “SDM dan Talenta Unggul Menuju Indonesia Emas 2045” ini merupakan gelombang pertama dari total 700 peserta yang akan dilatih. Untuk tahap awal, peserta berasal dari empat kecamatan: Unaaha, Anggaberi, Wawotobi, dan Konawe.
Syamsul menilai, kombinasi antara kompetensi intelektual dan semangat gotong royong menjadi kunci percepatan ekonomi desa.
“Dengan SDM unggul dan dukungan pemerintah, Koperasi Merah Putih akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi Konawe,” ujarnya.
Pelatihan ini diharapkan memperkuat peran koperasi sebagai penggerak ekonomi rakyat sekaligus bagian dari kesiapan daerah dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Laporan: Redaksi
