INFO-SULTRA.COM, KONSEL – Dinamika sengketa lahan di Kecamatan Landono, Kabupaten Konawe Selatan, memantik respons tegas namun menyejukkan dari tokoh pemuda setempat. Wakil Ketua Ormas Perkumpulan Masyarakat Tolaki (PMT) konawe selatan , Edo, mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya warga asli Tolaki, untuk menyikapi persoalan ini dengan kepala dingin dan hati yang bersih.
Sebagai putra daerah yang lahir dan besar di Landono, Edo menegaskan bahwa menjaga marwah suku tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan, melainkan dengan menjunjung tinggi hukum dan nilai-nilai kemanusiaan.
Menghidupkan Kembali Filosofi Adat Tolaki
Dalam pernyataannya, Edo menekankan pentingnya memegang teguh pedoman hidup leluhur suku Tolaki dalam berinteraksi dengan sesama, termasuk terhadap warga transmigrasi asal Jawa dan Bali yang sudah puluhan tahun menjadi bagian dari masyarakat Landono.
Edo mengutip pepatah sakral dalam adat Tolaki:
“Inae Konasara Iye Pinesara, Inae Lia Sara Iye I Pinekasara.
Filosofi ini adalah kompas moral kita. Artinya, siapa yang menghargai adat, maka ia akan dihormati dan dimuliakan; namun siapa yang melanggar adat, maka ia akan dikucilkan atau diberi sanksi tegas*” urai Edo menjabarkan makna tersebut.
Menurutnya, melakukan tindakan premanisme, intimidasi, apalagi perusakan tanaman di atas lahan yang sedang dalam proses hukum, adalah bentuk pelanggaran terhadap nilai Konasara(beradab).
“Sebagai tuan rumah dan pribumi, martabat kita ditentukan dari cara kita memperlakukan tamu dan aturan yang berlaku. Jika kita bertindak anarkis, justru kita sendiri yang mencoreng wajah adat kita,” tambahnya.
Dukungan Penuh pada Proses Hukum di Polda Sultra
Terkait klaim lahan transmigrasi yang kini telah masuk dalam tahap penyidikan di Polda Sulawesi Tenggara, Edo mengimbau keluarga dan warga lokal untuk meletakkan senjata dan mengedepankan dokumen.
“Warga transmigrasi di sini datang atas undangan negara sejak tahun 1971. Mereka memegang SHM tahun 1982. Jika ada pihak yang merasa memiliki hak, mari kita adu data di meja penyidik, bukan dengan cara-cara lapangan yang merusak hubungan persaudaraan,” tegas Edo.
Ia mengingatkan bahwa mencintai tanah kelahiran berarti menjaga kedamaian di atasnya. Mengintimidasi warga yang sudah berbaur dan saling mengenal selama puluhan tahun bukanlah cerminan jati diri sejati masyarakat Tolaki.
Komitmen PMT Menjaga Kondusivitas
Di akhir pernyataannya, Edo menginstruksikan seluruh kader PMT di Konawe Selatan untuk ikut serta menjaga keamanan dan ketertiban di Landono. Ia berharap tidak ada lagi “riak-riak” kekerasan yang mengatasnamakan suku untuk kepentingan pribadi.
“Mari kita tampil sebagai pribadi yang Konasara, Mari kita buktikan kepada dunia bahwa suku Tolaki adalah suku yang besar karena kebijaksanaannya, bukan karena kekuatannya melakukan kekerasan. Biarlah hukum di Polda Sultra bekerja untuk membuat semuanya terang benderang,” pungkasnya.
Laporan : Redaksi
