INFO-SULTRA.COM | KONAWE – Pagi itu perlahan beranjak menuju siang. Sinar matahari mulai menghangatkan suasana di sekitar lokasi kegiatan yang dipusatkan di Aula Pertemuan BKPSDM. Di depan aula, tampak para kepala OPD, sejumlah camat, serta pejabat lainnya telah berkumpul. Rabu 1 Juli 2026
Sebagian terlihat tersenyum, mencerminkan optimisme, sementara yang lain menyimpan harap dalam diam menanti perubahan yang benar-benar nyata bagi masa depan daerah dan generasi yang akan datang.
Di sudut barisan, para ibu terlihat menggendong anak-anak mereka. Ada yang tampak ceria, namun tak sedikit pula yang menyimpan kecemasan. Semua hadir dengan satu tujuan yang sama: melawan stunting.
Tak lama, Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, tiba di lokasi. Kehadirannya langsung menarik perhatian. Namun hari itu, ia tidak sekadar datang untuk memenuhi agenda seremonial.
Sebelum naik ke mimbar, Yusran berdiri sejenak. Tatapannya menyapu barisan kursi para pejabat. Suasana yang semula santai mendadak berubah tegang.
Dengan nada tegas, ia meminta memastikan kehadiran para camat. “Coba dicek… semua camat hadir atau tidak?” ucapnya.
Seisi ruangan hening. Beberapa peserta saling berpandangan. Ini bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk keseriusan seorang pemimpin.
“Ini program nasional. Jangan ada camat yang tidak hadir,” lanjutnya dengan suara mantap.
Ia menegaskan bahwa kehadiran pimpinan daerah hari itu adalah bukti komitmen bersama, “Saya hadir. Pak Wakil Bupati hadir. Pak Ketua DPRD hadir. Pak Sekda juga hadir,” katanya.
Kalimat itu sederhana, namun sarat makna tidak ada ruang untuk abai. “Kalau ada camat yang mengesampingkan program penting seperti ini, harus dievaluasi,” tegasnya tanpa kompromi.
Pernyataan itu menjadi titik balik suasana. Semua yang hadir menyadari, ini bukan sekadar kegiatan biasa. Ini adalah tanggung jawab besar terhadap masa depan anak-anak Konawe.
Setelah memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya, Yusran pun memulai sambutannya. Nada suaranya kini lebih hangat, namun tetap penuh penekanan.
Ia mengajak masyarakat untuk memulai dari langkah sederhana: membiasakan konsumsi madu secara rutin, khususnya bagi anak-anak.
“Mari kita biasakan konsumsi madu, terutama untuk anak-anak. Ini langkah sederhana, tapi sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan dan mendukung pencegahan stunting,” ujarnya.
Bagi sebagian orang, madu mungkin hanya dianggap pelengkap. Namun di tangan seorang pemimpin yang peduli, madu menjadi simbol harapan manisnya masa depan yang sedang diperjuangkan.
Sejumlah botol madu pun dibagikan kepada warga. Anak-anak mulai mencicipinya. Tawa kecil terdengar, mencairkan suasana yang sebelumnya penuh ketegangan.
Seorang ibu muda tampak menggenggam botol madu dengan hati-hati, matanya berkaca-kaca. “Kalau ini bisa bantu anak kita sehat, kita sebagai orang tua harus kita lakukan,” katanya lirih.
Pemerintah Kabupaten Konawe sendiri terus menggencarkan berbagai upaya penanganan stunting melalui edukasi, pemantauan gizi, hingga intervensi langsung ke masyarakat. Namun pendekatan yang dilakukan kali ini terasa lebih dekat dan menyentuh.
Yusran memahami, stunting bukan sekadar angka dalam laporan. Ini adalah persoalan nyata yang menyangkut tumbuh kembang anak, masa depan keluarga, dan kualitas generasi mendatang.
Di bawah terik matahari yang semakin meninggi, harapan itu tumbuh perlahan. Dari ketegasan seorang pemimpin, dari kepedulian yang nyata, hingga dari setetes madu yang kini menjadi simbol perubahan.
Dan masa depan anak-anak sedang diperjuangkan dengan keseriusan, kebersamaan, dan harapan yang tak pernah padam.
Laporan : Redaksi
