Mentari yang menyala garang seolah ikut menguji komitmen para pemangku kepentingan. Tapi di tanah ini, bukan panas yang menguasai, melainkan tekad.
Dalam sambutannya, Sekda Konawe, Dr. Ferdinand, menyampaikan dengan nada tegas
“Panas bukan penghalang. Hari ini bukan hanya kita menanam jagung, tapi kita menanam harapan dan kemandirian.”
Di tengah padang yang kering, suara mesin traktor bersahut-sahutan dengan semangat para peserta yang menggali dan menanam bibit. Tak ada keluhan. Hanya tawa dan teriakan semangat. Bahkan para pelajar SMK yang ikut ambil bagian tampak antusias, memanfaatkan momen ini sebagai laboratorium kehidupan nyata.
Sekda Provinsi Sultra, Asrun Lio, dalam pernyataannya menyebut kegiatan ini sebagai contoh nyata dari pertanian berkelanjutan:
“Cuaca ekstrem tidak bisa dilawan, tapi semangat kolaborasi bisa mengalahkan keterbatasan. Ini bukan sekadar program tanam, ini perjuangan menjaga hutan dan memberi makan rakyat.”
Sebagai bentuk dukungan nyata, 21,9 ton benih jagung disalurkan untuk mendukung budidaya di atas 1.456 hektare lahan. Para Kapolsek dan Danramil dikerahkan, bukan untuk operasi keamanan, tapi untuk mendampingi masyarakat bertani.
Zoom Meeting dengan Kapolri dan para menteri menjadi simbol bahwa perjuangan ini bukan hanya milik Konawe. Ini bagian dari perang besar melawan ancaman krisis pangan nasional.
“Jika seluruh 49,5 ribu hektare perhutanan sosial bisa dikelola dengan baik, maka Sultra akan menjadi benteng ketahanan pangan Indonesia.”
Dan hari ini, meski cuaca tak bersahabat, satu pesan kuat telah ditanamkan:
Semangat tak pernah pudar di bawah terik matahari, selama harapan tumbuh di dalam hati.
Laporan: Nasir Alex
