Berita

Lumpur Merah dari Hulu Tambang SCM Hantam Lamonae dan Wawonsangi

14

INFO-SULTRA.COM | KONAWE, 11 Mei 2026 – Sungai Lalindu kembali meluap. Namun kali ini bukan sekadar banjir musiman. Air yang masuk ke lahan pertanian warga terlihat merah pekat dan membawa lumpur dalam jumlah besar. Luapan tersebut merendam kebun jagung, sawit, palawija, hingga sawah produktif milik masyarakat di sepanjang bantaran sungai.

Warga menyebut limpasan berasal dari arah hulu, kawasan aktivitas tambang nikel milik PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Mereka menduga peningkatan sedimentasi terjadi bersamaan dengan intensitas hujan yang mendorong material tanah terbuka mengalir ke badan sungai.

Sepanjang bantaran Sungai Lalindu, lahan pertanian yang menjadi tumpuan ekonomi warga dilaporkan terendam dengan estimasi belasan hingga 30 hektar. Tanaman sawit, jagung, dan berbagai jenis palawija terdampak. Di Desa Wawonsangi, genangan dilaporkan terjadi di sejumlah titik dekat aliran sungai.

Kondisi paling mengkhawatirkan ditemukan di Desa Lamonae Utama. Sekitar 50 hektar sawah program nasional pemerintah dilaporkan ikut terendam lumpur merah. Sawah tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan dan dikelola oleh kelompok tani Wonua Sangia.

Praktisi lingkungan, Anshar Lamaliga, menilai perubahan warna air menjadi indikator penting yang tidak boleh diabaikan.

“Kalau air sungai berubah merah pekat saat debit naik, itu bukan sekadar air keruh biasa. Itu indikasi kuat adanya beban sedimen tinggi dari aktivitas di hulu. Harus diuji secara ilmiah. Kalau tidak, kita membiarkan kerusakan berulang tanpa koreksi,” tegas Anshar.

Ia menambahkan bahwa pola seperti ini, jika terjadi berulang setiap musim hujan, menunjukkan kemungkinan lemahnya sistem pengendalian erosi dan sedimentasi.

“Perusahaan tambang wajib memastikan kolam sedimentasi berfungsi optimal. Kalau lumpur sampai ke sawah rakyat dan merendam program nasional, itu artinya ada yang tidak beres dalam sistem pengelolaan lingkungannya,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu petani dari Desa Lamonae Utama menyampaikan keresahannya atas kondisi sawah yang terendam.

“Ini sawah program pemerintah. Kami tanam untuk kebutuhan pangan. Kalau terus begini, bagaimana nasib kami? Airnya merah, masuk sampai ke petak sawah. Sudah tidak bisa dihitung lagi berapa luas yang kena,” ujarnya.

Petani lain menyebut genangan tidak hanya terjadi di sawah, tetapi juga di kebun jagung dan palawija sepanjang pinggir Sungai Lalindu.

“Sepanjang bantaran sungai yang berkebun pasti kena. Ini bukan satu dua hektar. Belasan sampai puluhan hektar. Kami cuma bisa tunggu air surut,” katanya.

Luapan Sungai Lalindu juga melewati jalur menuju kawasan wisata Rawa Molara. Jika sedimentasi terus berulang, ekosistem rawa berpotensi mengalami pendangkalan dan gangguan jangka panjang.

Peristiwa ini memunculkan tuntutan agar dilakukan investigasi lapangan oleh Dinas Lingkungan Hidup, pengujian kualitas air secara independen, serta audit menyeluruh terhadap pengelolaan lingkungan di wilayah hulu. Transparansi hasil pemeriksaan dinilai penting agar publik memperoleh kepastian.

Ketika sungai memerah dan puluhan hektar sawah program nasional terendam, pertanyaan publik semakin menguat: apakah ini murni fenomena alam, atau ada kelalaian yang selama ini luput dari pengawasan?

 

Laporan : Redaksi