Berita

Satu-Satunya Perempuan, Santi Nilawati Lamambo Tak Gentar Taklukkan Medan Latoma–Routa

4

INFO-SULTRA.COM | KONAWE – Ekspedisi Latoma–Routa bertajuk “Menembus Batas, Jelajah Alam, Jaga Kelestarian Konawe” bukan sekadar perjalanan menelusuri medan alam, tetapi juga menjadi pengalaman berharga dalam mengungkap potensi kekayaan alam, sejarah, dan budaya Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Sabtu (7/11/2026).

Perjalanan yang diikuti 27 peserta tersebut menyisakan berbagai pengalaman, mulai dari perjuangan fisik, tantangan mental, hingga momen emosional yang semakin memperkuat kecintaan terhadap alam dan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

Di antara 27 peserta, terdapat sosok perempuan tangguh bernama Santi Nilawati Lamambo. Ia menjadi satu-satunya peserta perempuan dalam Ekspedisi Latoma–Routa.

Saat diwawancarai di Rumah Jabatan (Rujab) Wakil Bupati Konawe, Santi Nilawati Lamambo mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga. Menurutnya, ekspedisi itu bukan hanya tentang keberanian menembus medan berat, tetapi juga kesempatan mengenal lebih dekat kekayaan alam, sejarah, dan budaya Kabupaten Konawe.

Keikutsertaan Santi menjadi gambaran bahwa keberanian, semangat menjelajah, serta kepedulian terhadap alam dan sejarah daerah bukan hanya milik kaum laki-laki.

Ia turut mengambil bagian dalam perjalanan yang tidak sekadar menelusuri kawasan Latoma hingga Routa, tetapi juga berupaya mengenali jejak sejarah, potensi budaya, serta kekayaan alam Konawe yang selama ini belum banyak diketahui masyarakat luas.

Ekspedisi tersebut bukan perjalanan biasa. Para peserta harus menghadapi berbagai tantangan medan yang membutuhkan kesiapan fisik, kekuatan mental, keberanian, serta kekompakan seluruh anggota tim.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Santi tetap menjadi bagian dari rombongan hingga menyelesaikan perjalanan. Kehadirannya memberikan warna tersendiri sekaligus menjadi bukti bahwa perempuan juga mampu mengambil peran dalam kegiatan eksplorasi alam dan pengenalan potensi daerah.

Keikutsertaan Santi Nilawati Lamambo menjadi pesan tersendiri bagi perempuan-perempuan Konawe agar terus berani mengambil bagian dalam berbagai kegiatan positif, berkontribusi bagi daerah, serta tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti melangkah.

Di tempat yang sama, Ketua Rombongan Tim Ekspedisi, Eddy Sulfriadi Lamambo, S.Kom., M.M., mengungkapkan bahwa perjalanan tersebut bukan sekadar petualangan biasa, melainkan perjuangan fisik dan mental yang memberikan banyak pelajaran berharga.

Ia menyampaikan terima kasih kepada Bupati Konawe, Wakil Bupati Konawe, seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Konawe, serta berbagai pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan ekspedisi dapat terlaksana dengan baik.

Menurut Eddy, salah satu pengalaman paling mengharukan terjadi ketika tim menemukan air terjun saat turun dari kaki Puncak Nandut.

“Saya sempat duduk termenung hingga air mata menetes. Saat itu saya menyadari betapa luar biasanya ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sangat disayangkan jika kekayaan alam seperti ini dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan pribadi,” ungkapnya.

Ia juga menceritakan beratnya medan yang harus dilalui. Setiap langkah membutuhkan konsentrasi, kehati-hatian, dan ketenangan. Bahkan, pengalaman menghadapi tawon di beberapa pos persinggahan mengajarkannya untuk tidak mudah panik dalam menghadapi situasi sulit.

“Dari perjalanan ini saya semakin memahami bahwa Kabupaten Konawe memiliki kekayaan alam yang sangat luar biasa, wilayah yang luas, serta banyak potensi wisata yang harus kita kenali, jaga, dan kembangkan,” tuturnya.

Di akhir wawancara, Eddy berpesan kepada generasi muda agar memiliki kepedulian dan tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Pesan saya kepada generasi muda dan para penerus, mari kita jaga alam. Sebagaimana slogan, alam jaga kita. Jangan sampai kita menikmati kekayaan alam hari ini, tetapi anak cucu kita kelak hanya mewarisi kerusakannya,” tutupnya.

Pengalaman serupa juga disampaikan Wahyu. Saat diwawancarai, ia mengungkapkan bahwa perjalanan tersebut menjadi pengalaman yang sangat berharga, bukan hanya menguji kekuatan fisik, tetapi juga menjadi perjuangan emosional dan mental.

Wahyu turut menyampaikan terima kasih kepada Bupati Konawe, Wakil Bupati Konawe, seluruh jajaran pemerintah daerah, serta berbagai elemen masyarakat yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan ekspedisi.

Menurutnya, perjalanan tersebut menyadarkan dirinya tentang kebesaran ciptaan Tuhan dan pentingnya menjaga alam sebagai anugerah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang.

“Ada satu pengalaman yang sangat membekas dan membuat saya terharu. Ketika kami turun dari kaki Puncak Nandut, kami menemukan sebuah air terjun. Saya sempat duduk termenung cukup lama hingga air mata saya menetes. Saat itu saya benar-benar menyadari betapa luar biasanya ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa,” ungkap Wahyu.

Ia berharap Pemerintah Kabupaten Konawe dan seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menjaga kelestarian alam tanpa menjadikannya sebagai objek kepentingan politik maupun kepentingan pribadi.

“Harapan saya kepada Pemerintah Kabupaten Konawe dan seluruh elemen masyarakat, mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan alam ini. Jangan sampai ada kepentingan politik ataupun kepentingan pribadi yang justru menjadi alasan untuk merusak lingkungan. Alam ini bukan hanya untuk kita nikmati hari ini, tetapi juga merupakan warisan yang harus kita jaga untuk generasi mendatang,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wahyu mengaku bahwa ekspedisi tersebut menjadi salah satu perjuangan mental yang luar biasa. Sepanjang perjalanan, peserta dituntut menjaga konsentrasi karena harus melewati medan alam yang berat dan penuh tantangan.

“Ini sebenarnya merupakan salah satu perjuangan mental yang luar biasa bagi saya. Bagaimana kami harus terus berkonsentrasi setiap melangkah karena medan yang kami hadapi benar-benar berat. Bahkan, saya sempat berpikir, mengapa saya berada di tempat ini dan apa sebenarnya tujuan dari perjalanan ini?” katanya.

Namun, di balik berbagai tantangan tersebut, Wahyu akhirnya menemukan makna tersendiri. Ia meyakini bahwa perjalanan itu menjadi kesempatan untuk menyampaikan kepada masyarakat bahwa Kabupaten Konawe memiliki kekayaan alam dan potensi wisata yang luar biasa.

“Saya menganggap mungkin inilah jawaban dari Tuhan, agar saya bisa menyampaikan kepada masyarakat Kabupaten Konawe bahwa daerah kita ini sangat kaya, wilayahnya begitu luas, dan memiliki begitu banyak potensi wisata alam yang luar biasa. Potensi ini harus kita kenali, kita jaga, dan kita kembangkan,” jelasnya.

Selain tantangan medan, Wahyu juga menceritakan pengalaman menarik ketika menghadapi tawon di beberapa titik persinggahan atau pos tempat tim bermalam.

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga ketenangan dalam menghadapi situasi tidak terduga.

“Kalau biasanya kita berada di kampung dan melihat seekor tawon saja sudah panik. Tetapi ketika berada di lokasi ekspedisi, kami justru belajar bagaimana menghadapi situasi tersebut dengan tenang. Kami belajar mengendalikan diri, tetap berkonsentrasi, dan tidak mudah panik,” ungkapnya.

Ia pun mengajak generasi muda untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai tindakan nyata, bukan sekadar slogan.

“Pesan saya kepada seluruh generasi muda dan generasi penerus, mari kita bersama-sama menjaga alam. Sebagaimana slogan Badan Penanggulangan Bencana, ‘Alam Jaga Kita’. Sebab, alam memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Jika hari ini kita tidak mampu menjaga alam, maka kita tidak pernah tahu bagaimana nasib anak cucu kita di masa yang akan datang,” pesannya.

Setelah menyelesaikan perjalanan, rombongan ekspedisi yang berjumlah 27 orang tiba di Rumah Jabatan Wakil Bupati Konawe.

Kedatangan mereka menjadi momentum untuk menyampaikan hasil penelusuran sekaligus berbagi pengalaman selama perjalanan. Dalam suasana diskusi dan tanya jawab bersama Bupati Konawe, H. Yusran Akbar, S.T., sejumlah anggota tim menceritakan berbagai pengalaman suka maupun duka saat menembus medan ekspedisi.

Berbagai cerita tersebut menjadi bagian penting dari upaya mendokumentasikan potensi alam, sejarah, dan kebudayaan Konawe.

Ekspedisi Latoma–Routa meninggalkan lebih dari sekadar jejak perjalanan. Kegiatan ini membuka kesadaran bahwa Kabupaten Konawe memiliki kekayaan alam, sejarah, dan budaya yang perlu terus ditelusuri, dikenali, didokumentasikan, serta dikembangkan secara bertanggung jawab.

Pengalaman Santi Nilawati Lamambo, Eddy Sulfriadi Lamambo, dan Wahyu menjadi gambaran bahwa ekspedisi tersebut bukan hanya tentang keberanian menembus medan, tetapi juga tentang membangun ketangguhan mental, menumbuhkan kecintaan terhadap alam, serta memperkuat kepedulian terhadap warisan daerah.

Pesan yang mengemuka dari perjalanan tersebut adalah pentingnya menjaga kelestarian alam agar kekayaan yang dimiliki Konawe saat ini tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.

Jangan sampai generasi hari ini menikmati kekayaan alam, sementara anak cucu kelak hanya mewarisi kerusakannya.

Laporan : Redaksi