Berita

Jejak Kebaikan Asmawa Tosepu: Dari Birokrat Merakyat Hingga Bangun Ponpes di Konsel

4

INFO-SULTRA.COM | MORAMO – 20/10/2026, Di tengah kesibukan dan rutinitasnya sebagai birokrat nasional, sosok Asmawa Tosepu menunjukkan keteladanan sebagai putra daerah yang tidak melupakan akar.

Birokrat tulen lulusan STPDN Tahun 1997 yang dikenal sederhana dan merakyat itu kini membangun Pondok Pesantren di wilayah Desa Lombueya Kecamatan Moramo Utara Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Langkah tersebut menjadi bukti nyata pengabdian Asmawa Tosepu tidak hanya di pemerintahan, tetapi juga pembangunan umat dan kampung halamannya melalui pendidikan dan dakwah.

Asmawa Tosepu lahir 15 Oktober 1974 di Wonggeduku, Kendari. Karirnya sebagai birokrat murni sangat cemerlang. Ia pernah dipercaya sebagai Penjabat (Pj) Wali Kota Kendari 2022-2023, Pj Bupati Bogor 2023-2024, Pj Bupati Belitung Timur 2024, dan saat ini menjabat sebagai Kepala Biro Umum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI.

Meski telah bertugas di kota-kota besar, jiwa merakyatnya tetap melekat. Warga Moramo mengenalnya sebagai sosok yang ramah, tidak berjarak, dan selalu hadir dalam kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan di kampung halamannya.

“Birokrasi adalah jalan pengabdian. Tapi pembangunan umat melalui pendirian pondok pesantren yang didalamnya pendidikan agama serta pendidikan umum adalah investasi abadi untuk anak cucu kita,” ujar Asmawa Tosepu dalam sebuah kesempatan silaturahmi dan zikir akbar keluarga.

Pembangunan Pondok Pesantren yang digagasnya di Moramo Utara bukan sekadar bangunan fisik. Pesantren ini dirancang menjadi pusat pendidikan Islam, pembinaan akhlak generasi muda, dan pusat ekonomi umat.

Lokasinya yang berada di wilayah Moramo utara yang juga merupakan tanah pengabdian hingga akhir hayat ayahandanya Almarhum Wure Bin Alenunggu di Desa Tambosupa memiliki ikatan emosional yang kuat.

Warga menyambut antusias. Mereka menilai, apa yang dilakukan Asmawa adalah contoh langka. Di saat banyak pejabat membangun kemewahan pribadi, Asmawa justru membangun rumah ibadah dan rumah ilmu untuk masyarakat.

“Sederhana, tidak suka menonjolkan diri. Kalau datang di kampung pakai baju biasa saja, duduk sama warga di bawah pohon. Tidak ada sekat sebagai pejabat tinggi yang berkarir di Pusat. Makanya kami bangga punya putra daerah seperti Pak Asmawa,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Moramo.

Keberadaan masjid sebagai bagian dari pesantren yang didirikan diharapkan menjadi penyejuk dan benteng moral bagi generasi muda di Konawe Selatan, sekaligus melanjutkan tradisi keluarga yang religius.

Dengan rekam jejak sebagai birokrat tulen yang bersih, sederhana, dan merakyat, Asmawa Tosepu membuktikan bahwa jabatan tinggi tidak harus membuat seseorang jauh dari rakyat dan pembangunan keumatan.

Laporan : Redaksi