INFO-SULTRA.COM, KONAWE – Di tengah kegelisahan soal masa depan pangan nasional, suara mahasiswa pertanian menggema dari Kampus Universitas Lakidende. Aula kampus itu menjadi saksi ketika Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagris) Unilaki menggelar Seminar Nasional yang dirangkai dengan Training Advokasi dan Jurnalistik ISMPI Wilayah V.
Bukan sekadar forum akademik, kegiatan ini menjelma ruang konsolidasi gagasan. Delegasi mahasiswa pertanian dari berbagai daerah di Wilayah V ISMPI duduk berdampingan dengan pelajar SMA se-Kabupaten Konawe—menandai satu pesan penting: isu pangan bukan urusan segelintir elite, tetapi tanggung jawab lintas generasi.
Tema yang diusung, “Agriculture Advokasi 5.0: Suara Mahasiswa untuk Ketahanan Pangan Nasional”, menjadi benang merah seluruh diskusi. Di ruang ini, mahasiswa diajak tak hanya memahami pertanian sebagai sektor produksi, tetapi sebagai medan advokasi, kebijakan, dan perjuangan informasi yang kerap luput dari sorotan publik.
Seminar dibuka oleh Rektor Universitas Lakidende, Prof. Dr. H. La Karimuna, M.Sc., Agr, yang juga tampil sebagai pemateri utama. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa mahasiswa adalah simpul penting perubahan.
Ketahanan pangan, katanya, tidak hanya lahir dari sawah dan gudang, tetapi juga dari gagasan, keberpihakan kebijakan, dan informasi yang jujur.
Kehadiran Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Konawe, Dr. Suryadi, S.Pd., M.Pd., mempertegas dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan sumber daya manusia pertanian sejak bangku pendidikan.
Sementara itu, Kejaksaan Negeri Konawe, melalui perwakilannya Tutun Mahmudin, S.H., M.H., memberi pesan tersirat: advokasi harus berjalan seiring dengan kesadaran hukum.
Di akhir kegiatan, satu harapan mengendap di ruang seminar itu agar mahasiswa tak berhenti pada diskusi. Panitia berharap pelatihan advokasi dan jurnalistik ini melahirkan generasi muda pertanian yang tak hanya paham persoalan pangan, tetapi juga berani mengawal kebijakan dan menyuarakannya kepada publik.
Laporan: Nasir Alex
